Umum

Sejarah Stasiun Sukahujan: Jejak Rel Saketi-Bayah di Pondokpanjang

19 Jan 2026 | Hedi | 7 Dibaca

Sejarah Stasiun Sukahujan: Jejak Rel Saketi-Bayah di Pondokpanjang

Pembangunan jalur kereta api Saketi–Bayah merupakan salah satu proyek infrastruktur paling ambisius sekaligus kontroversial di Pulau Jawa pada masa pendudukan Jepang (1942–1945). Di tengah blokade laut oleh tentara Sekutu, Jepang terpaksa mencari sumber energi alternatif di daratan Jawa untuk menggerakkan mesin perang mereka. Salah satu titik krusial dalam jaringan distribusi logistik ini adalah Stasiun Sukahujan, yang terletak di wilayah Pondokpanjang, Banten Selatan.

Artikel ini membedah nilai sejarah, teknis, dan sosiologis keberadaan stasiun tersebut, termasuk peran jalur Saketi–Bayah, tragedi Romusha, hingga kondisi kontemporer bekas infrastruktur.


Konteks Geopolitik dan Kebutuhan Energi

Pada tahun 1942, Jepang menghadapi krisis bahan bakar serius. Tambang batu bara di Sumatera dan Kalimantan sulit dijangkau karena aktivitas kapal selam Sekutu. Jepang kemudian melirik potensi batu bara muda (brown coal) di wilayah Bayah dan Cikotok, Banten Selatan.

Untuk mengangkut hasil tambang ke pusat industri di Jakarta dan Surabaya, dibangunlah jalur kereta api sepanjang 89 km yang menghubungkan Saketi (Pandeglang) dengan Bayah (Lebak). Stasiun Sukahujan dibangun sebagai stasiun antara yang vital untuk mengatur lalu lintas kereta di medan berbukit dan pesisir yang sulit.


Tinjauan Teknis dan Arsitektur Stasiun Sukahujan

Secara operasional, Sukahujan diklasifikasikan sebagai stasiun kecil atau halte, namun posisinya strategis sebelum jalur memasuki medan pesisir curam.

  • Konstruksi Darurat: Berbeda dengan stasiun era Belanda (BOS/SS) yang menggunakan beton dan bata, Sukahujan dibangun semi-permanen, memanfaatkan kayu jati lokal dan bambu. Atap dan dinding mencerminkan keterbatasan material akibat kondisi perang.

  • Sistem Persinyalan: Menggunakan sistem mekanik sederhana. Jalur ini single track, sehingga stasiun berperan sebagai titik persilangan (cruising) untuk kereta pengangkut batu bara ke utara (Saketi) dan kereta logistik/penumpang ke selatan (Bayah).

  • Posisi Strategis: Sukahujan berada di tengah medan berbukit dan hutan lebat, sehingga menjadi lokasi penting untuk koordinasi perjalanan kereta, pengisian air lokomotif, serta kontrol logistik.


Tragedi di Balik Pembangunan: Eksploitasi Romusha

Sejarah Stasiun Sukahujan tidak dapat dipisahkan dari mobilisasi tenaga kerja paksa (Romusha). Ribuan Romusha, terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, dikirim ke Banten Selatan untuk membangun jalur ini.

Pondokpanjang menjadi saksi tingginya angka kematian pekerja. Faktor-faktor penyebab termasuk:

  1. Malnutrisi: Jatah makanan tidak mencukupi untuk kerja fisik berat di hutan dan bukit.

  2. Penyakit Tropis: Wabah malaria, disentri, dan infeksi kulit menyebar luas di area kerja.

  3. Kondisi Kerja Berbahaya: Ketiadaan alat keselamatan saat membelah bukit, membangun jembatan, dan menata rel di medan curam.

  4. Eksploitasi Sistematis: Romusha dipaksa bekerja dengan target produksi yang menuntut cepat, mengabaikan keselamatan.

Sejarah Romusha menjadi bagian gelap dari cerita Sukahujan: banyak korban meninggal, dan trauma sosial meninggalkan jejak panjang di komunitas lokal.


Pasca-Kemerdekaan dan Dekadensi Infrastruktur

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, jalur ini dikelola oleh Djawatan Kereta Api (DKA). Namun, umur operasional tidak bertahan lama karena beberapa faktor:

  • Kualitas Batu Bara: Batu bara Bayah memiliki kadar kalori rendah dan abu tinggi, sehingga kurang ekonomis untuk industri.

  • Kerusakan Struktur: Jalur dibangun cepat tanpa standar kualitas tinggi, menyebabkan pelapukan bantalan rel dan jembatan.

  • Penurunan Aktivitas: Penambangan menurun pasca-perang, menurunkan jumlah penumpang dan pendapatan jalur.

Akhirnya, Stasiun Sukahujan dan jalur Saketi–Bayah dinonaktifkan sekitar tahun 1951.


Kondisi Kontemporer: Arkeologi Industri

Kini, sisa Stasiun Sukahujan hampir sepenuhnya menyatu dengan alam dan permukiman Pondokpanjang. Hanya tersisa:

  • Bongkahan beton pondasi.

  • Bekas drainase jalur kereta.

  • Struktur tanah yang sudah memadat membentuk jalan setapak dan jalur desa.

Secara arkeologis, lokasi ini menjadi situs industri masa perang yang dapat dipelajari oleh sejarawan dan masyarakat lokal untuk memahami teknik konstruksi dan sejarah sosial Romusha.


Kesimpulan

Stasiun Sukahujan adalah artefak sejarah yang merepresentasikan ambisi militerisme Jepang sekaligus penderitaan rakyat Indonesia.

  • Jalur Saketi–Bayah menunjukkan bagaimana strategi logistik perang memengaruhi pembangunan infrastruktur.

  • Tragedi Romusha mengingatkan tentang eksploitasi manusia dalam proyek perang.

  • Meski fisik stasiun telah sirna, nilai sejarahnya tetap hidup dalam narasi lokal, arkeologi industri, dan kesadaran masyarakat Pondokpanjang.

Daftar Pustaka Ilmiah

  1. Kurasawa, A. (1988). Mobilization and Control: A Study of Social Change in Rural Java, 1942-1945. Cornell University.

  2. Sato, S. (1994). War, Nationalism and Peasants: Java under the Japanese Occupation, 1942-1945. Sharpe.

  3. Reitsma, S. A. (1943). De Spoorwegen op Java onder Japansche Bezetting (Arsip Sejarah Perkeretaapian).

  4. Biro Sejarah Perkeretaapian Indonesia. (2010). Jejak Langkah Kereta Api di Bumi Banten.

Bagikan Berita Ini

Komentar (0)

Memuat komentar...